Patients in the clinic

Monday, August 5, 2013

Acheh story (nxt part)

Dia mencari cari sesuatu, mukanya seperti orang yang sedang kebingungan.
"Cari apa sih, Defi?" Aku bertanya lembut.
" enggak ada pinnya, kak Emi"

Aku melihat tudung yang dipakainya agak sedikit besar, sehingga menampakkan lehernya. Tiada siapa yang mengendahkannya, mereka yang lain juga lagi sibuk mempersiapkan diri mereka untuk ke taman wisata.

Melihat dirinya sedemikian, aku jadi terpikir adik-adik perempuanku di rumah. Selalunya, jika ingin keluar jalan-jalan, pasti kami akan berkumpul, dan bersiap-siap bersama-sama.

" kakak, lilitkan tudung, pinkan, oke tak tudung ni?" Soalan bertalu-talu.

Kalau tidak pun, pasti ada moment seperti ini:
" tak jumpa la pin tudung, nak pinjam kakcik punya"
"Amik la, lepastu pulangkan balik"
Lol.

Tidak pernah merasa terkapai-kapai seorang diri, lebih-lebih lagi sudah terbiasa dengan adik beradik yang lumayan ramai. Pasti ada saja yang memberi sokongan dan pendapat.

Aku tersedar dari lamunan. Aku melihat jam tanganku yang sudah memberi amaran bahawa kami harus segera menaiki bas untuk bergerak menuju taman wisata. Adik Defi masih mencari pin tudungnya, yang masih belum ditemuinya. Kasihan. Aku jadi sebak melihat dirinya, lebih muda dari adikku, tapi sudah harus berdikari sendiri.

Tiba-tiba aku bermonolog dalaman. Jika aku yang kehilangan pin, nescaya ada banyak lagi pin yang lain. Kalau tidak ada, aku beli saja yang baru, bisikku sendiri.

Sudah pasti kehidupan mereka berbeza. Mungkin sahaja, setiap anak-anak panti hanya diberi satu pin tudung. Pin yang sama, dipakai untuk semua tudung yang ada. Jika mahu lebih, mungkin harus dibeli sendiri menggunakan uang jajan yang tidak seberapa.

Persoalannya, bukan pin yang aku pikirkan. Persoalan kasih sayang. Sudah pasti, setiap anak-anak di sini tidak mendapat perhatian yang secukupnya dari ibu panti. Ini sudah lumrah, kerana jika dilihat dari jumlah anak-anak di sini, tidak cukup seorang ibu untuk mengambil tahu tentang anak-anak di sini secara terperinci. Too much to handle.

Kasih sayang. Satu nikmat yang seringkali dipandang enteng oleh diri ini. Jarang sekali diri ini bersyukur atas nikmat kasih sayang yang begitu melimpah ruah. Sedih. Tatkala diriku dimanjakan dengan perhatian dan kasih sayang yang tidak berbelah bahagi, ada yang kehilangan ibu dan ayah dari usia yang begitu kecil sehingga tidak pernah merasa usapan dan kucupan kasih sayang dari mereka.

Nikmat mana lagi yang kau dustakan? Aku tertanya sendiri.

Aku menyelongkar tas ku, mencari pin ekstra. Ku capai sebutir pin dan lantas aku pinkan di tudung Defi. Hilang terus kekusutan di wajahnya tadi. Dia tersenyum mesra. Manis sekali wajahnya. MasyaAllah.

Dia memeluk erat tubuhku. Kemudian, dia membisikkan sesuatu di telingaku.

"Makasih kak Emi, pinnya cantik banget" katanya sambil tersenyum riang.
" Iya sama-sama. Belajarnya harus rajin ya" ku bisik kembali.

Mataku tertumpu pada pin yang baru saja aku pin di tudungnya. Sudahpun sedikit berkarat. Tidak cantik seperti yang dikatakan oleh Defi. Allah. Sebak melihat ketulusan hatinya.

Tidak ku sangka, tarbiyah bisa datang dari sebutir pin tudung, yang ku pikir sudah tidak lagi berharga. Mungkin dari pandangan kita, sesuatu itu terlihat kecil dan tidak bernilai, tapi dari pandangan orang lain, ianya adalah nikmat yang begitu besar dan sukar untuk diperolehi.

You dream to have what other people have, but many more people dream to have what you have.
So start appreciating. Stop complaining. Then you can start living.
Sentap.

Insya-Allah. Oh Allah, guide me. Guide me to appreciate more of the things that you have given me.
Guide me all the way to your Jannah.
Amin.

P/s I miss you little Defi :)



No comments:

Post a Comment